D. DATA CENTER
1. Perangkat Keras Data Center
Data center menjadi bagian penting dalam infrastruktur digital masa kini. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal, data center membutuhkan berbagai komponen yang saling terintegrasi. Berikut adalah beberapa komponen utama data center beserta fungsinya:
Jantung dari data center adalah infrastruktur komputasi yang terdiri dari server, router, switch, dan perangkat jaringan lainnya. Komponen data center ini bertanggung jawab untuk memproses, mengelola, dan mendistribusikan data kepada pengguna.
- Server: Jantung data center yang bertanggung jawab untuk memproses data, menjalankan aplikasi, dan menyediakan layanan kepada pengguna.
- Router: Mengarahkan traffic data antar jaringan untuk memastikan data sampai ke tujuan yang tepat.
- Switch: Komponen data center yang menghubungkan perangkat dalam jaringan lokal yang memungkinkan komunikasi antar perangkat.
- Perangkat Jaringan Lainnya: Firewall, load balancer, dan network storage device melengkapi infrastruktur jaringan untuk keamanan, optimasi performa, dan penyimpanan data jaringan.
Data center menyimpan data dalam jumlah besar, sehingga membutuhkan sistem penyimpanan yang handal. Komponen penyimpanan data center yang umum digunakan adalah hard disk drive (HDD), solid state drive (SSD), dan storage area network (SAN).
Konektivitas antar perangkat dalam data center dan ke jaringan eksternal menjadi kunci kelancaran operasi. Komponen jaringan, seperti router, switch, dan firewall, memastikan data dapat mengalir dengan cepat dan aman.
Komponen data center beroperasi 24 jam non-stop, sehingga membutuhkan pasokan daya listrik yang stabil dan handal. Komponen power supply meliputi generator, UPS (Uninterruptible Power Supply), dan sistem distribusi daya yang berfungsi untuk:
- Generator: Cadangan daya ketika terjadi pemadaman listrik, memastikan data center tetap beroperasi.
- Uninterruptible Power Supply (UPS): Melindungi perangkat dari lonjakan tegangan dan gangguan daya.
- Sistem Distribusi Daya: Memastikan distribusi daya yang stabil dan efisien ke seluruh komponen data center.
5. Sistem Pendingin (Cooling System)
Perangkat keras di data center menghasilkan panas dalam jumlah besar. Komponen cooling system di data center, seperti AC, kipas, dan sistem pendingin air berperan penting untuk menjaga temperatur ruangan dan perangkat agar tetap optimal.
Pendinginan yang baik sangat penting untuk mencegah panas berlebih yang dapat merusak perangkat keras. Jika terjadi panas berlebih, komponen data center bisa mengalami overheat yang dapat memicu terjadinya kebakaran di ruang data center tersebut.
Data center menyimpan data sensitif, sehingga keamanan jadi prioritas utama. Komponen keamanan data center meliputi firewall, sistem kontrol akses, dan kamera CCTV. Sistem ini harus melindungi data dari akses yang tidak sah, malware, dan serangan siber lainnya.
Komponen infrastruktur fisik data center meliputi gedung, ruang server, raised floor, dan sistem kabel. Desain dan konstruksi infrastruktur fisik harus mempertimbangkan keamanan, ketahanan, dan efisiensi ruang sesuai dengan standar yang berlaku.
Rawan Kebakaran! Komponen Data Center Harus Diproteksi Fire Suppression yang Efektif
Komponen data center menyimpan data-data penting dalam jumlah besar, sehingga keamanannya menjadi prioritas utama. Namun, ada ancaman utama yang perlu diwaspadai, yaitu kebakaran yang bisa menimbulkan kerugian sangat besar.
Salah satu contohnya adalah Kebakaran Gedung Gyber 1 akibat arus pendek listrik. Imbasnya, beberapa layanan publik terutama yang berbasis online mengalamai down hingga sementara waktu pada hari tersebut.
Berikut beberapa alasan mengapa risiko kebakaran komponen data center tinggi:
- Padatnya Perangkat Elektronik: Data center penuh dengan perangkat elektronik yang menghasilkan panas, seperti server, router, dan switch. Panas ini dapat menjadi sumber api jika tidak dikelola dengan baik.
- Kabel dan Instalasi Listrik: Kabel dan instalasi listrik yang rumit dan kompleks di data center berpotensi menimbulkan korsleting dan percikan api.
- Bahan Bakar: Bahan bakar seperti diesel untuk generator backup dan plastik yang digunakan dalam perangkat elektronik dapat memperparah kebakaran.
- Kurangnya Ventilasi: Ruang server yang tertutup dan minim ventilasi dapat menghambat penyebaran asap dan api.
- Kesalahan Manusia: Faktor manusia seperti kelalaian, sabotase, dan kesalahan dalam penggunaan peralatan juga dapat memicu kebakaran.
Dampak kebakaran di data center tentu sangat besar. Terjadinya kebakaran dapat merusak atau memusnahkan data-data penting yang disimpan di server. Kondisi ini juga akan mengganggu operasional data center dan menyebabkan downtime layanan online.
Kerugian finansial akibat kebakaran komponen data center dapat mencapai miliaran rupiah. Hal ini termasuk biaya perbaikan, kehilangan data, dan gangguan operasional. Ditambah lagi, Kebocoran data akibat kebakaran dapat merusak reputasi perusahaan.
Untuk mengatasi risiko kebakaran di data center, diperlukan sistem proteksi kebakaran yang tepat. Instalasi fire suppression system adalah solusi ideal untuk melindungi data center dari bahaya kebakaran. Apa fungsi fire suppression system dan bagaimana cara kerjanya?
Fungsi utama fire suppression system adalah mendeteksi tanda-tanda kebakaran dan memadamkan api dengan cepat dan efektif. Berikut adalah alur kerja fire suppression dalam memproteksi komponen data center:
- Deteksi Api: Sistem deteksi kebakaran mendeteksi adanya asap, panas, atau api di area yang dilindungi.
- Aktivasi Alarm: Ketika api terdeteksi, alarm akan berbunyi untuk memperingatkan personil dan mengaktifkan fire suppression system.
- Pelepasan Agen Pemadam Api: Sistem fire suppression system secara otomatis melepaskan agen pemadam api ke area yang terbakar.
- Pemadaman Api: Agen pemadam api bekerja dengan cara memadamkan api dan mencegah penyebarannya.
- Pemantauan dan Pengendalian: Sistem pemadaman kebakaran terus memantau kawasan lindung dan memastikan bahwa api benar-benar padam.
Redundancy adalah kunci dalam pengelolaan infrastruktur pusat data untuk memastikan ketersediaan dan performa layanan IT. Sederhananya, redundancy merujuk pada penggunaan komponen atau sistem cadangan siap pakai jika ada kegagalan pada sistem utama.
Data center redundancy sangat penting karena downtime atau kegagalan sistem dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi perusahaan. Dengan mengoptimalkan redundancy, data center dapat meminimalkan risiko downtime dan memastikan bahwa layanan Anda tetap tersedia, bahkan dalam situasi darurat.
Dalam desain data center, ada beberapa tingkat redundancy yang dapat diterapkan, masing-masing dengan tingkat ketersediaan dan biaya yang berbeda. Berikut adalah beberapa tingkat redundancy data center yang paling umum:
Tingkat redundancy N adalah konfigurasi dasar di mana tidak ada komponen cadangan yang tersedia. Dalam desain N, setiap komponen tunggal, seperti server, jaringan, atau pendingin, adalah satu-satunya titik kegagalan.
Meskipun tingkat ini memiliki biaya awal yang lebih rendah, namun risiko kegagalan dan downtime yang tinggi juga perlu Anda pertimbangkan. Terutama jika bisnis Anda sangat bergantung pada ketersediaan data dan layanan digital.
Apa itu data center redundancy N+1 adalah peningkatan dari tingkat N, di mana terdapat satu komponen cadangan tambahan untuk setiap komponen utama. Misalnya, jika sebuah data center memiliki empat server utama, maka akan ada lima server secara keseluruhan, dengan satu server sebagai cadangan.
Model ini memberikan tingkat redundancy yang lebih tinggi daripada N, karena mampu menjaga ketersediaan layanan, bahkan jika satu komponen bermasalah. Namun, model ini masih memiliki beberapa titik kegagalan potensial dan mungkin tidak cukup untuk aplikasi yang bersifat critical.
Tingkat redundancy data center 2N lebih tinggi dari N+1, di mana setiap komponen utama memiliki satu komponen cadangan independen. Dengan kata lain, setiap komponen utama memiliki duplikat yang siap digunakan jika terjadi kegagalan.
Model ini mengurangi risiko downtime hingga tingkat yang sangat rendah karena semua komponen utama memiliki cadangan. Meskipun biaya awalnya lebih tinggi, namun 2N merupakan pilihan yang lebih baik untuk aplikasi yang membutuhkan ketersediaan yang sangat tinggi.
Tingkat redundancy 2N+1 adalah peningkatan dari 2N, di mana satu komponen tambahan tersedia sebagai cadangan untuk ketersediaan maksimal. Model ini adalah pilihan yang paling tahan terhadap kegagalan karena memiliki cadangan ekstra untuk setiap komponen utama.
Namun, biaya tambahan untuk menyediakan komponen cadangan harus Anda pertimbangkan dengan hati-hati. Anda juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan teknis aplikasi dan data, supaya tidak mengeluarkan terlalu banyak biaya.





Comments
Post a Comment